Bagaimana Kalau…

Image: Pinterest

Ahh, rasanya lelah.. Padahal ngga ngapa-ngapain tapi hari ini berasa emosional banget. Dasar cewek ya, suka mood swing mendadak dan tanpa alasan. Yahh, begitulah kami para kaum hawa hahaha.

Kalo lagi badmood gini bawaannya males mau ngapa-ngapain, males buka mulut buat ngomong, males maen sosmed, males gerak buat turun dari kasur, cuma pikirannya aja yang mengembara.

Semenjak belajar mengenali emosi diri sendiri, semakin banyak pertanyaan dan pikiran random yang muncul dengan ajaib. Apalagi di saat suasana hening dini hari, ngga jarang merasa sendiri dan kosong.

Setiap orang ada masanya, setiap masa ada orangnya. Yah, setiap pergantian butuh adaptasi yang luar biasa. Sedih, bahagia, jatuh, utuh, mencari, menemukan, patah, menghilang dan semua fase yang terjadi ketika orang-orang datang dan pergi silih berganti.

Beribu pertanyaan akan kemungkinan-kemungkinan terburuk dalam hidup menumpuk di benak. Dengan awalan kalimat “Bagaimana kalau?”

Bagaimana kalau orang yang kamu sayang saat ini pergi meninggalkanmu? Apakah kamu mampu dan masih kuat menjalani hari-hari tanpa mereka? Bagaimana kalau orang yang paling kamu percaya mengkhianatimu? Masih percayakah kamu untuk memberikan kepercayaan pada orang lain lagi? Bagaimana kalau sesuatu yang kamu anggap paling berharga diambil oleh orang lain? Sanggupkah kamu untuk melepaskannya? Bagaimana kalau hidupmu yang semula baik-baik saja tiba-tiba runtuh karena hal tertentu? Mampukah kamu bangkit untuk meraih puing-puing kembali hidupmu? Bagaimana kalau orang-orang meninggalkanmu di saat kamu sangat membutuhkan mereka? Sanggupkah kamu menghadapi persoalan hidup seorang diri? Bagaimana kalau? Bagaimana kalau? Bagaimana kalau?

Sanggupkah kita mempertahankan kewarasan dan keyakinan kita di saat badai kehidupan singgah dalam perjalanan hidup kita?

Dari kerandoman pikiranku tadi, aku teringat nasihat ayahku yang selama ini kupegang teguh. Beliau berkata, “jangan pernah mencintai, mempercayai ataupun memberikan sesuatu pada orang lain 100%. Karena yang berhak dan layak mendapatkan 100% dari dirimu adalah dirimu sendiri.”

Nasihat ini secara tidak langsung mengajariku untuk membuat batasan diri sendiri terhadap orang lain, menyelamatkanku dari hal-hal menyakitkan yang berlebihan dan mengajarkanku untuk mengontrol diri sendiri.

Yang kedua, ini adalah prinsip yang aku pegang teguh. “Jangan pernah menggantungkan sesuatu maupun kebahagiaanmu pada standar orang lain” Ayahku pernah berkata bahwa bahagia itu berasal dari dalam dan yang menciptakan adalah diri sendiri, bukan orang lain. Dan aku meyakini itu.

Mindset ini yang membuat hidupku lebih tenang, menambah rasa syukur, tidak terkecoh oleh sesuatu di luar sana dan mampu menikmati hidupku yang sederhana ini dengan bahagia.

Yang terakhir adalah membentuk pola pikir yang simple (menurut aku) di saat ada masalah. Ayahku menerapkan mindset, “setiap masalah pasti ada solusinya (fokus pada solusi, bukan masalahnya) dan apa yang terjadi memang sudah seharusnya terjadi. Ini kehendak Tuhan. Kita hanya perlu melakukan bagian kita, yakni menghadapinya dan mengambil hikmah dari apa yang terjadi.”

Salah satu keberuntunganku adalah memiliki sosok ayah yang bisa menjadi sahabat, pendengar yang baik, pemberi nasihat yang masuk akal dan mudah diterima. Ngga jarang beliau membantuku untuk menghadapi permasalahan-permasalahan dalam hidup dengan nasihatnya.

Tapi namanya juga hidup kadang suka ngajak becanda ataupun tiba-tiba ada surprise yang kurang bersahabat haha. Se-rapi kita nyusun rencana maupun mempersiapkan diri untuk sesuatu yang akan terjadi di masa depan kadang realitanya ngga selalu sesuai sama apa yang udah kita siapin tapi seenggaknya kita udah mempersiapkan diri sebaik mungkin. Terlepas apa yang akan terjadi dan bagaimana kita bereaksi di masa depan, ya emang misteri hahaha.

Tinggalkan komentar