
Apa sih yang menjadi tolok ukur kualitas diri seseorang? Apakah dari seberapa tinggi pendidikannya dan jajaran gelar yang berhasil ia raih? Apakah dari segi agamanya yang kental? Ataukah dari status sosial yang tinggi dan kehidupan glamour yang terlihat semata?
Setiap individu pasti memiliki opini masing-masing akan hal itu, tapi seringkali sudut pandang orang lain memaksa kita untuk mengikuti standar value mereka hanya untuk sebuah validasi semata. Tanpa kita sadari hal ini dapat merusak ke-autentikan diri kita, pola pikir dan reaksi kita terhadap sesuatu.
Di era modern yang serba digital banyak sekali pengguna yang menjadikan media sosial sebagai ajang flexing. Ngga jarang kita jadi ikut-ikutan hanya untuk sebuah pengakuan.
Bukankah itu sangat melelahkan? Lalu, mau sampai kapan mengikuti standar orang lain? Apakah ini patokan dari kualitas diri kita?
Hal ini seringkali membuat kita lupa akan pentingnya mengenali diri sendiri, menghargai diri sendiri dan belajar mencintai diri sendiri sehingga kita memiliki value atas diri kita dan tidak menggantungkan pada standar orang lain.
Hai, aku Nayu.. Ini kisahku. Tahun lalu aku dihadapkan pada sebuah insecurity terdalam dari diriku, yakni sebuah privilege yang tak pernah kudapat dari orang tua. Ya, pendidikan di bangku sekolah yang layak.
Hal ini tak jarang memengaruhiku dalam suatu hubungan percintaan yang mana diriku kerap mendapat penolakan dari keluarga pasangan karena latar belakang pendidikan dan status sosial yang tak setara dengan mereka yang menilai kualitas diri seseorang dari sebuah gelar.
Tentu saja ini membuat mentalku down dan penolakan terasa menyakitkan. Hubungan kandas karena tidak adanya restu otomatis membuatku merasa tidak layak, memandang rendah diriku, membandingkan dengan orang lain hingga menyalahkan diri sendiri bahkan orang tuaku.
Kalau saja aku bisa mengejar pendidikan tinggi, hubungan-hubunganku tidak akan kandas seperti sebelumnya karena kasus yang sama. Kalau saja orang tuaku tidak begini, pasti ini tidak akan terjadi. Segala pikiran negatif berkecamuk sampai-sampai aku tidak bisa berpikir jernih. Kejadian tersebut menjatuhkanku pada jurang quarter life crisis yang mana aku butuh effort berbulan-bulan untuk merangkak keluar dari sana.
Suatu ketika aku bercerita akan keadaanku pada salah seorang teman dekat. Beginilah opininya. “Tidak sekolah tinggi bukan berarti hidup kita tidak berkualitas. Sekolah tinggi pun tidak menjamin kualitas diri seseorang. Apalagi, harga diri tidak bisa dinilai hanya dari sebuah gelar.” Ia berbicara dengan tegas, dengan penekanan nada dan meyakinkan.
“Kamu hanya tidak bergelar, bukan tidak berpendidikan dan kelebihan yang kamu pupuk dari kerja kerasmu sendiri sudah sangat cukup untuk menutupi yang mereka anggap sebagai kekuranganmu (gelar). Kamu istimewa dan berhak untuk dihargai.” Lanjutnya.
Aku merenungi pernyataan tersebut. Opininya membuka luas jendela pikiranku akan sebuah harapan. Aku meningkatkan kembali kepercayaan diri dengan mengeksplorasi keunikan diri sendiri, menambah keahlian dalam bidang tertentu, menggali potensi yang bisa dikembangkan, menjaga hubungan baik dengan Tuhan, memperbaiki attitude dan terus upgrade diri.
Dari penolakan yang pernah terjadi menyadarkanku bahwa untuk menjadi seseorang yang berkualitas (versi diriku) tidak harus mengikuti standar orang lain. Mungkin aku tidak bisa meraih pendidikan tinggi (gelar) karna alasan tertentu. Tapi aku bisa melakukan hal-hal yang berkualitas lain dan membuatku memiliki value.
Terkadang orang menganggap remeh akan pentingnya kesadaran diri dengan mengetahui apa yang sesungguhnya kita butuhkan (bukan hanya ikut-ikutan), apa yang penting bagi kita, apa saja batasan-batasan kita terhadap diri sendiri dan orang lain?
Banyak pertanyaan yang sampai detik ini pun aku belum menemukan jawabannya. Dari sebuah pertanyaan yang muncul, aku belajar banyak hal akan diriku sendiri. Belajar merangkul kekuranganku, memaafkan diri sendiri, menyadari bahwa tidak ada yang sempurna, menerima diriku seutuhnya dan berdamai dengan diri sendiri.
Ini adalah perjalanan panjang akan proses penerimaan diri, sebuah cara untuk menghargai diri sendiri dan validasi atas kualitas diri hanya kita yang berhak dan tidak ditentukan oleh orang lain.
Ada sebuah kutipan favorit yang sangat membantu dari motivator Rupi Kaur yang berisi “How you love yourself is how you teach others to love you.” Kutipan ini merupakan pondasi bahwa aku layak mendapatkan perlakuan yang baik sebagaimana aku memperlakukan diriku sendiri.
Satu hal yang perlu kita ketahui bahwa mencintai diri sendiri tidaklah egois, bukan berarti tidak membutuhkan orang lain. Namun, orang lain ada sebagai support kita dan pilihan tetap dari diri kita. Itulah yang dinamakan value.
Aku pun berprinsip untuk tidak menggantungkan kebahagiaan pada standar orang lain dan lebih bersyukur dengan apa yang kumiliki. Mindset itu perlahan terbangun dan aku bahagia atas apa yang aku jalani sekarang tanpa perlu membandingkan diri dengan hidup orang lain.
Hidup harus tetap realistis, ada hal-hal di luar kendali kita yang memang tak bisa kita kendalikan tapi bukan berarti kita gagal dalam kehidupan. Bukankah begitu, hidup? Kita hanya perlu mengambil pelajaran dibalik ke-tidakberhasilan yang kita alami. Memang, aku tak mendapat privilege pendidikan dari orang tua tapi di sisi lain aku bangga dengan pola didik orang tuaku yang menjadikanku wanita tangguh, memiliki value dan menepis perasaan insecure-ku pada mereka yang bergelar. Ini adalah yang terbaik yang orang tuaku mampu berikan dan dengan kesadaran penuh aku mensyukurinya.
Salah satu mindset penting yang kupelajari adalah “Jangan pernah melihat kelebihan orang lain sebagai kekurangan kita, sebab setiap dari diri kita memiliki keunikannya masing-masing.”
Bersabar dengan proses yang sedang dijalani, yakni mengizinkan diriku melakukan sesuatu sesuai batas kemampuanku, bukan standar mereka.
Jadi, sudahkah kamu mencintai dirimu sendiri dan memvalidasi kualitas dirimu dari diri sendiri?
