Mengejar Karier Atau Menikah Muda?

Beberapa hari lalu usiaku baru menginjak 22 tahun. Ulang tahun kali ini sedikit berbeda, aku udah ngga se-excited seperti tahun-tahun sebelumnya ketika akan bertambah umur. Ternyata, takut dewasa itu benar adanya haha. Meski aku sudah mulai beradaptasi dengan fase peralihan menuju dewasa, tapi rasanya masih ada sedikit ketakutan dalam diri akan tanggung jawab yang lebih besar nantinya. Mengingat 22 tahun bukan lagi usia yang sedikit. Sudah saatnya berhenti bermain-main soal asmara dan mulai menata hidup dengan lebih terencana.

Ada sebuah pertanyaan menggelitik sekaligus serius yang muncul di benak secara tiba-tiba. Mengejar karier atau menikah muda? Ya, dua pilihan itu sukses bikin sebagian besar wanita galau, tak terkecuali si penulis ini haha. Pernah sempat kepikiran buat menikah muda saat usiaku baru 19-20 tahunan. Tapi seiring bertambah usia, pemikiran yang lebih matang, aku rasa menikah bukan keputusan yang mudah dan ngga cuma modal cinta. Ya, kita harus realistis dalam memandang berbagai kebutuhan hidup dan itu ngga murah haha. Bisa dibilang aku lebih santai saat ini tanpa kepikiran buat menikah muda. Namun, di sisi lain seperti ada tuntutan dari keluarga untuk mulai mencari pasangan yang serius bahkan beberapa kali muncul pertanyaan dari kakak-kakak, “Sudah ada calon untuk dibawa ke rumah?”

Secara sadar atau tidak, aku sempat merenungkan pertanyaan itu dan juga dilanda galau. Namun, aku berpikir bahwa 22 tahun terlalu muda untuk mengambil keputusan yang besar (menikah). Aku masih belum cukup dengan diriku sendiri dan masih ingin mengeksplor diri lebih dalam. Mungkin terdengar egois karena aku belum siap jika harus membagi waktuku untuk kewajiban istri sekaligus ibu dalam rumah tangga. Ntah itu mengurus rumah, anak, suami dan kebutuhan lainnya.

Bagiku, menikah adalah keputusan yang sangat besar dalam hidup dan memilih pasangan pun ngga sembarangan (kudu melek ya, biar ngga kemakan cinta). Yaa.. Setiap orang pasti pengen kan menikah hanya satu kali dan menghabiskan sisa hidupnya dengan satu orang yang sama. Nah, untuk tahu pasangan seperti apa yang kita butuhkan adalah dengan mengenal diri sendiri lebih baik. Karena menikah itu selamanya, dan selamanya itu lamaaaa banget haha. Jadi, ya harus selektif memilih pasangan. Karena bagaimana pasangan kita juga menentukan bagaimana pernikahan kita nantinya, yang tentunya ngga terlepas dari kerja sama suami-istri.

Setiap orang pasti mempunyai pernikahan impiannya masing-masing, begitu juga aku. Bukan soal resepsi yang bagaimana sih tapi sebuah pernikahan seperti apa yang kita inginkan dan bagaimana kita akan mencapainya. Setelah ijab qobul dan peran baru sebagai pasangan suami-istri. Bagaimana kita membangun kepercayaan, berdiskusi, komunikasi sehat, menjaga intensitas hubungan dan dengan segala kekurangan masing-masing yang telah kita terima seumur hidup, bagaimana cara kita untuk berempati satu sama lain. Ini ngga langsung abracadabra jadi mudah ygy haha tapi butuh belajar dan kesabaran juga dalam menjalaninya.

Menikah adalah perjalanan baru, petualangan bersama. Saat menikah, berarti kita sudah berkomitmen untuk menerima segala kelebihan dan kekurangan pasangan dengan sadar (jadi ngga bisa tukar tambah ya, ngga kaya pacaran! Kudu tanggung jawab sama pilihan sendiri), siap dengan tanggung jawab peran masing-masing, segala konsekuensi dari setiap permasalahan yang muncul dan siap untuk bekerja sama membentuk keluarga yang ideal.

Dan soal karier, siapa sih yang ngga pengen punya karir cemerlang versi kita? Pasti kita pengen dong bangga sama diri sendiri dengan apa yang udah diraih. Memang sih, kalo ngomongin soal karier dan impian serta ambisi yang ada di dalamnya mungkin ngga akan ada habisnya. Begitupun aku, yang masih memiliki tanggung jawab yang harus aku selesaikan sebelum menikah.

Ada target yang musti dikejar selagi single, masih pengen me-time sepuasnya, punya banyak temen cowok tanpa ada yang ngatur haha dan ngga ada batas ruang dan waktu untuk melakukan segala hal sendiri karena kita bertanggung jawab atas diri sendiri dan mengambil keputusan sendiri.

Kalo saat ini aku masih menikmati waktu luang dengan duniaku sendiri. Mungkin, aku membutuhkan waktu 2 tahun lagi untuk siap menikah. Mengingat bekal pernikahan ngga cuma modal gombalan. Tapi juga kesiapan mental, fisik, finansial, interpersonal, sosial, intelektual, keterampilan hidup dan banyak yang lainnya. Namun, aku tidak menutup kemungkinan jika Tuhan mendatangkan jodoh lebih awal. Yaaa, namanya manusia hanya bisa berencana kan? Kalau Tuhan menghendaki menikah tahun depan yaaa kita hanya tinggal menjalani saja.

Jadi, menikah atau mengejar karier?
Hmm.. kalau aku ingin fokus karier yang lebih baik dulu. Tapi, kalau Tuhan menggariskan menikah diluar rencanaku yaa sudah, gass saja lah haha. Karena semua balik lagi, manusia hanya bisa berencana dan Allah yang menentukan. Aku selalu percaya bahwa segala yang terjadi pasti ada hikmah besar di dalamnya. Yaudahlah ya.. Berbaik sangka aja bestie.

Kalau kalian gimana nih? Mau menikah muda atau mengejar karier dulu? Sharing di kolom komentar, yuk!

Tinggalkan komentar