Ikut-ikutan Tren Biar Apa Sih? Ini Tips Mengatasi FOMO dengan JOMO

Illustration: freepik.com

Seiring pesatnya perkembangan teknologi memudahkan kita untuk mengakses aktivitas atau kehidupan orang lain melalui media sosial. Ruang komunikasi seperti instagram, twitter, facebook, tiktok dan lain sebagainya tanpa disadari membuat kita kecanduan akan konten yang disajikan di media sosial. Hal ini membuat kita takut ketinggalan update dan selalu ingin mengikuti trend. Ya, kondisi seperti ini dikenal dengan istilah FOMO yang sudah termasuk dalam gangguan kesehatan mental dan banyak dialami oleh kaum millenial.

Apa itu FOMO? Bagaimana dampaknya bagi kesehatan mental maupun fisik? Dan bagaimana cara mengatasi sindrom tersebut? Yuk, baca pembahasan ini agar kita dapat mencegahnya lebih awal.

Penjelasan mengenai FOMO

Photo: Constantin Stanciu/Shutterstock

Adiksi terhadap media sosial ini dikenal dengan istilah Fear of Missing Out atau FOMO ialah kondisi dimana kita merasa “takut ketinggalan atau kehilangan momen” Dan menginginkan untuk terus terkoneksi dengan internet agar tidak ketinggalan trend, berita hangat, atau informasi apapun yang sedang ramai diperbincangkan di media sosial.

Istilah FOMO pertama kali diperkenalkan oleh Patrick McGinnis, seorang penulis asal Amerika Serikat yang menulis sebuah artikel berjudul “Social Theory at HBS: McGinnis’ Two FOs” pada tahun 2004. FOMO dikaitkan dengan penggunaan media sosial yang intensif tanpa mengenal batas ruang dan waktu. Pengguna platform media sosial kerap memamerkan status sosial yang dapat menimbulkan rasa cemas dan perasaan rendah diri dari sisi kualitas hidup para followers yang tingkat sosialnya lebih rendah dari tontonan mereka.

FOMO umumnya terjadi pada usia 18 – 33 tahun. Terutama kaum millenial yang selalu mengikuti aktivitas media sosial teman-teman mereka, selebgram maupun public figure dengan kehidupan yang menggiurkannya. Tanpa disadari hal ini rentan akan rusaknya kesehatan mental, lambat laun kita mulai kecanduan untuk menonton hidup orang lain melalui unggahan mereka, kemudian membanding-bandingkan dengan hidup kita sendiri yang kelihatannya tidak se-enak kehidupan mereka.

Dampak FOMO bagi kesehatan

Illustration: motionlab.com.au

Seiring berkembangnya era digital beserta fenomena FOMO yang diselimuti kecemasan dan ketakutan akut berdampak pada kondisi kesehatan penggunanya. Tidak semua media sosial berdampak buruk, hal itu tergantung bagaimana kita memanfaatkan ruang komunikasi tersebut. Berikut 3 dampak negatif yang sering terjadi akibat FOMO.

1. Memengaruhi kesehatan mental

  1. Overthinking. Seiring mudahnya akses media sosial menyebabkan ketergantungan yang membuat kita ingin scroll terus-menerus, mantengin layar gadget berjam-jam dan lain sebagainya sampai menjadi kebiasaan buruk yang membuat kita tidak mau lepas dari genggaman gadget. Tentu saja hal itu memengaruhi kesehatan mental yang membuat kita merasa kecil, berpikir hidup kita membosankan dan tidak se-menyenangkan hidup teman-teman dalam unggahannya di media sosial, mengurangi rasa bersyukur, kemudian kita sibuk mengkritik diri sendiri yang menimbulkan overthinking dan menghambat produktivitas. Hal inilah yang membuat kita berpikir satu-satunya orang yang ketinggalan update dan tidak se-keren mereka.
  2. Insecure. Ya! Bagaimana tidak insecure kalau kita terus membandingkan hidup kita dengan postingan orang yang terlihat perfect, lebih sukses dan dengan lingkungan sosial yang berkelas. Kita terlanjur percaya dengan feed instagram yang dicover semenarik mungkin. Hal itu bisa membuat kita menarik diri dari lingkungan sosial, tidak menjadi diri sendiri, perasaan tidak nyaman, terus nge-toxic-in diri sendiri dengan hal-hal negatif, timbul rasa iri dan parahnya kita merasa orang paling worthless di dunia.

Baca Juga: 5 tips menghadapi quarter life crisis. Ubah insecure jadi hal positif

2. Memengaruhi kesehatan fisik

Rasa ketakutan akan ketinggalan informasi terbaru dapat membuat seseorang kurang konsentrasi pada sesuatu yang sedang dilakukan dan menyebabkan insomnia atau sulit tidur sehingga pola tidur menjadi tidak teratur dan membuat kita mudah merasa lelah dan pusing. Dampaknya produktivitas menjadi terganggu seperti timbulnya rasa malas.

Baca Juga: overthinking, overwhelm, overload. kondisi manakah yang sedang kamu alami saat ini?

Jika sindrom FOMO ini terus berjalan dalam jangka waktu lama dan tidak segera diatasi, maka tubuh akan mengalami gangguan organ dalam seperti kesehatan jantung. Maka dari itu, jangan coba-coba disepelekan ya.

3. Berpengaruh pada kondisi finansial

Sindrom FOMO menjadi salah satu masalah penyebab perilaku konsumtif generasi milenial semakin besar. Tidak sedikit orang yang terkena FOMO mengalami kendala finansial bahkan sampai terjerat hutang dikarenakan membeli barang hanya untuk ikut-ikutan trend yang sedang berjalan, mengatasi gengsi dengan teman, mempertahankan status sosial dan hanya ingin mendapat pengakuan.

Pada dasarnya kondisi finansial setiap orang berbeda-beda. Kita tidak perlu memaksakan sesuatu yang nantinya dapat merugikan diri sendiri bahkan orang lain. Cerdas dalam mengatur keuangan, membeli sesuatu sesuai kebutuhan dan jangan hanya ikut-ikutan karena takut ketinggalan dan merasa tidak keren.

Cara mengatasi FOMO

Illustration: freepik.com

1. Mengubah mindset

Mulailah mengubah pola pikir dengan JOMO yaitu singkatan dari Joy of Missing Out atau kebalikan dari FOMO dimana perasaan “tidak peduli” Meski tidak mengikuti trend. Mulailah menumbuhkan kesadaran akan dampak negatif FOMO.

Selain itu kita juga bisa melatih mindfulness, dimana kita belajar untuk terfokus pada apa pun yang dilakukan saat ini atau suatu kesadaran yang dihadirkan dengan sengaja seperti keterbukaan, kepedulian dan penilaian baik. Hal ini dapat mengubah pola pikir kita sehingga tidak terfokus pada kesibukan orang lain.

Awalnya hal ini memang sulit, tapi kalau kita memiliki tekad yang kuat untuk mengubah kebiasaan buruk tersebut. Maka seiring berjalannya proses akan terasa lebih mudah dan menjadi terbiasa.

2. Atur jadwal pemakaian gadget

Menjadwalkan waktu pemakaian gadget untuk memeriksa media sosial juga dapat membantu. Dengan settingan waktu ini membuat kita tidak hanya terpaku pada layar dan lebih produktif jika hanya memeriksa media sosial di waktu tertentu saja. Selain itu juga dapat mendisiplinkan diri kita dalam pemakaian media sosial.

Untuk memudahkan mengatur jadwal, kita bisa meng-install aplikasi fitur kesehatan digital sehingga otomatis dapat mengontrol pemakaian kita setiap harinya.

Jika membatasi pemakaian belum juga membantu, maka rehat sejenak dari media sosial merupakan cara ampuh untuk menghadapi FOMO. Berusahalah fokus pada kehidupan nyata yang dijalani seperti mencoba terkoneksi dengan orang-orang di dunia nyata dan melakukan hal positif yang dapat mendistraksi diri dari media sosial.

3. Journaling

Menuangkan seluruh pikiran dan perasaan dengan journaling membuat kita terfokus pada diri sendiri. Kita bisa menulis di buku atau membuat blog juga sangat membantu proses healing. Selain memfokuskan pikiran kita juga dapat menurunkan tingkat depresi dan anxiety.

Journaling juga dapat melacak pikiran dan perasaan negatif sehingga hal ini memungkinkan untuk mengamati seberapa sering kita merasa rendah diri, iri dengan pencapaian orang lain dan hal negatif lainnya yang muncul akibat FOMO. Jika pikiran negatif itu muncul maka catatlah, kemudian analisis jurnal dan tentukan kebiasaan atau pola pikir mana yang perlu diubah untuk merasa lebih baik. Selain itu, kita dapat lebih memahami dan menganalisis pikiran serta kondisi kesehatan mental diri sendiri.

Sebagai pengguna media sosial yang cerdas kita harus pandai memilih informasi yang tepat. Jangan sampai media sosial menjerumuskan kita pada hal negatif yang dapat merugikan diri sendiri. Sekian dari informasi ini, semoga bermanfaat dan dapat membantu. Healthy Mind Happy Life 💝

Kalau informasi ini dirasa masih kurang. Kamu bisa menyimak lagi versi video youtube di link ini biar lebih jelas.

Tinggalkan komentar