
Memasuki fase hidup di usia 20-an memiliki tantangannya sendiri. Masa dimana penuh ketidakpastian, keterombang-ambingan, kegalauan, kekecewaan, sulit menentukan pilihan, arah dan tujuan hidup serta tanggung jawab terasa lebih berat. Fase ini disebut dengan istilah Quarter Life Crisis (QLC) merupakan usia peralihan dari remaja menuju dewasa. Suatu kondisi krisis di kisaran usia 20-30 tahun.
Orang yang ada dalam fase ini akan mengalami kondisi krisis emosional yang melibatkan perasaan seperti depresi, frustrasi, overthinking, terjebak dalam kecemasan, kesepian, tidak bahagia, bingung dan merasa sulit untuk keluar dari emosi-emosi tersebut.
Munculnya berbagai masalah kehidupan, seperti hubungan sosial, percintaan, karir, keluarga membuat sebagian orang cukup sulit dalam menghadapi fase peralihan ini. Hal mendasar yang menimbulkan QLC adalah tuntutan untuk bersikap lebih dewasa dalam menentukan arah tujuan hidup dengan tanggung jawab yang besar. Menurut peneliti dan pengajar Psikologi dari University of Greenwich, London, Dr. Oliver Robinson, ada empat fase dalam QLC.
- Perasaan terjebak dalam situasi. Entah itu karir, hubungan asmara atau yang lainnya.
- Harapan bahwa akan muncul sebuah perubahan dalam hidup.
- Mulai membangun kembali hidup yang baru.
- Mengukuhkan komitmen seputar aspirasi, motivasi dan tujuan.
Lamanya melewati fase pertama tergantung dari cara kamu menyikapi situasi tersebut. Berikut 5 tips menghadapi QLC untuk membantu kamu agar tidak berlama-lama berada di fase pertama karna dapat menghambat proses kamu dalam banyak hal.
1. Berhenti membandingkan diri kamu dengan orang lain

Terkadang kesalahan yang sering dibuat adalah membandingkan diri dengan orang lain sehingga tanpa kita sadari berujung pada perasaan insecure, overthinking dan menyalahkan diri sendiri.
Sadarilah setiap orang memiliki proses dan jalan hidup masing-masing dan tentunya tidak bisa kamu samakan dengan dirimu. Kamu boleh melihat kesuksesan orang lain sebagai bentuk motivasi dan memacu semangat untuk maju, bukan malah membuatmu merasa terpuruk.
Membandingkan diri dengan orang lain tidak akan pernah ada habisnya. Namun, ada satu cara untuk membandingkan diri dengan adil dan sehat. Yaitu, bandingkan dirimu yang sekarang dengan yang kemarin. Dengan begitu, kamu akan melihat perkembangan dirimu dan lebih menghargai diri sendiri serta fokuslah pada tujuan dan progres yang kamu jalani. Terlebih lagi, jangan lupa nikmati prosesnya.
2. Jauhkan diri dari lingkungan negatif

Lingkungan yang negatif akan memberikan dampak negatif pula bagi diri kamu. Karena lingkungan memiliki pengaruh besar dalam membentuk karakter dan menentukan masa depan, maka pintar-pintarlah dalam memilih pergaulan.
Jangan sampai kamu terjerumus ke dalam pergaulan toxic yang merugikan. Jika memang sudah terlanjur, maka segera jauhkan diri dari lingkungan tersebut. Pertemanan itu seharusnya positif dan saling membangun, bukan menjatuhkan dan memberi dampak buruk karena kamu butuh dikelilingi oleh orang-orang yang dapat mendukung dan itu ada pada lingkungan positif.
3. Luangkan waktu untuk mengenali diri sendiri

Cobalah meluangkan waktu untuk introspeksi diri dengan lebih baik lagi dalam mengenal diri sendiri. Seperti mencari tahu apa yang kamu inginkan dalam hidup, apa tujuan kamu, bagaimana kamu akan mencapainya, values, ketahuilah batasan kamu dan kondisikan ekspektasi agar sesuai dengan realita.
Terkadang salah satu penyebab QLC adalah kurangnya pengenalan terhadap diri sendiri. Mengapa ini begitu penting? Karena, semakin baik kamu mengenal dirimu, maka akan semakin mudah menghadapi krisis yang kamu alami.
Ada beberapa cara untuk membantumu mengenal diri sendiri. Seperti mencoba hal baru, membuka diri untuk mengenal orang baru, memilih hobby baru dan masih banyak lagi. Dengan begitu, kamu tahu apa yang kamu sukai dan membuatmu nyaman sehingga bisa mengatasi krisismu dengan tepat.
4. Bersabar dengan proses kamu

Hidup itu ibarat mengemudi di jalan. Masing-masing dari kita adalah pengemudi. Salip-menyalip merupakan hal yang wajar. Namun, ketahuilah bahwa tidak ada yang terdepan dan tidak ada pula yang menjadi paling belakang karna masing-masing dari kita memiliki tujuan dan estimasi waktu (proses) yang berbeda.
Maka dari itu, bersabarlah dengan proses yang sedang kamu jalani. Tidak perlu terburu-buru, berjalanlah dengan timeline hidupmu. Kamu tidak harus menjadi seperti mereka, tetapi menjadi versi lebih baik dari diri kamu sebelumnya itu sudah cukup. Bersabar bukan berarti pasrah, namun mengizinkan diri kamu untuk melakukan yang terbaik sesuai kemampuan kamu. Tetaplah berusaha dan konsisten yaa.
5. Hidup di masa sekarang

Hindari berpikir “Seandainya” atau “Kalau saja waktu itu aku tidak begini/begitu” karena hanya akan membuat kamu menyesali keputusan yang sudah terjadi. Toh, waktu tidak dapat diputar kembali bukan? Jadi, fokuslah di hari ini dan masa depan.
Melihat ke belakang boleh-boleh saja, namun jadikan kesalahan di masa lalu sebagai pembelajaran untuk menjadikanmu sosok yang lebih bijak dan dewasa dalam menyikapi suatu hal sehingga kamu bisa berdamai dengan diri sendiri.
Itulah 5 tips dalam menghadapi Quarter Life Crisis. Teruslah berjuang dan percayalah pada dirimu bahwa kamu mampu menaklukkan fase ini. Semoga artikel ini dapat membantumu yaa. Terimakasih.
Hidup itu ibarat mengemudi di jalan. Masing-masing dari kita adalah pengemudi. Salip-menyalip merupakan hal yang wajar. Namun, ketahuilah bahwa tidak ada yang terdepan dan tidak ada pula yang menjadi paling belakang karena masing-masing dari kita memiliki tujuan dan estimasi waktu (proses) yang berbeda.
